Beberapa tahun ke belakang, hari ulang tahun buat saya seperti hari pada umumnya. Tanpa sebuah perayaan berarti. Bahkan sering kali saya memilih untuk benar-benar menyembunyikan tanggal itu. Setakut itu dengan perayaan ulang tahun, padahal mungkin tidak ada orang yang peduli juga.
Saya masih ingat betul, di masa SMA hanya dua orang teman yang mengucapkan ulang tahun secara rutin. Satu orang teman perempuan di kelas saya yang hafal dengan tanggal ulang tahun seluruh teman kelasnya. Saat saya menulis kontemplasi ini, dia baru saja mengucapkan sumpah dokter.
Satu lagi adalah seorang teman perempuan. Bukan lagi beda kelas namun juga beda peminatan. Mulanya dekat karena pernah ada di satu ekstrakurikuler yang sama, kemudian berlanjut akrab hingga menjelang kelulusan sekolah. Hampir tak pernah saya berkomunikasi dengannya beberapa tahun terakhir, namun postingan terakhir saat saya menulis ini dia sedang mempersiapkan kelulusan perkuliahannya.
Saya cenderung acuh, mungkin sekedar berterima kasih telah menyampaikan doa baik yang berharap akan kembali pada mereka. Buat saya, tanggal lahir hanyalah sekedar pengingat terhadap beberapa hal administratif semata. Tahun lalu, tanggal lahir menjadi pengingat agar tidak lupa memperpanjang masa berlaku Surat Izin Mengemudi (SIM).
Pikiran ini terbentuk dari sebuah kutipan ceramah agama yang saya temui di media sosial, yang saya pegang selama bertahun-tahun. Sebuah kutipan yang menyebut bahwa perayaan hari lahir hanyalah kesia-siaan, karena justru di tanggal itu merupakan berkurangnya kontrak hidup antara hamba kepada Sang Pencipta.
Mungkin cara pandang saya saat itu tidak seluas hari ini. Karena budaya ulang tahun hari ini terlalu berorientasi pada kesenangan pribadi dan tidak menyentuh hal-hal lain yang tidak terpikirkan sebelumnya. Bahkan hingga saat ini, saya adalah orang yang hampir tidak pernah mengucapkan ulang tahun kepada siapapun, kecuali keluarga dan oshimen di JKT48.
Menemukan Makna Baru
Saya tidak sengaja menemukan sebuah cuplikan video perbincangan Pak Anies Baswedan yang diunggah oleh juru bicaranya, Mas Angga Putra. Kutipannya kurang lebih seperti ini.
Saya kemudian tertarik untuk menyimak percakapan versi penuhnya di kanal Youtube milik Pak Bambang Widjojanto dan mendapatkan kesimpulan menarik. Sembari membaca reply dan quote tweet pada unggahan Mas Angga, saya mendapatkan insight yang menarik. Ternyata bukan saya saja yang mengacuhkan hari lahir mereka.
Berbicara mengenai perjuangan seorang ibu dalam melahirkan anaknya, saya tentu tidak akan lupa bagaimana cerita orang-orang tentang situasi mencekam di rumah bersalin menjelang kelahiran.
Hujan deras tak segera berakhir, kali depan rumah bersalin yang nyaris meluap, hingga listrik padam yang tak kunjung menyala. Dokter obgyn yang menangani kelahiran saat itu sampai harus membawa lampu darurat dari rumahnya untuk membantu kelahirannya. Hingga suara tangis itu pecah, suasana tiba-tiba berbalik.
Jika bisa bercerita, tembok kamar inap rumah bersalin yang telah dibongkar menjadi parkir motor rumah sakit itu akan menceritakannya dengan detail. Saya tetap percaya bahwa doa baik yang diucapkan seorang perawat yang keheranan dengan situasi saat itu akan terus bergaung mengiringi setiap langkah.
Kehilangan dan Lewah Pikir Tak Terjawab
285 hari berlalu setelah kepulangan Ibu menghadap Sang Pencipta, sejujurnya masih ada perasaan yang mengganjal. Sampai hari ini pun saya masih belum bisa mendefinisikan perasaan tersebut, entah rasa belum bisa menerima, rasa sesuatu yang tidak biasa, ataupun rasa penyesalan.
Mungkin ada mimpinya yang tak sempat diucapkan. Mimpi yang tak ingin bersinggungan dengan rencana besar yang telah disusun anak sulung. Mungkin saja dia memeluk erat mimpi itu, terlupakan oleh raga yang makin ringkih, hingga membawanya terkubur bersama raganya itu. Mimpi yang bahkan tak sempat diketahui dan diperjuangkan.
Langkah sempat terhenti tak menemukan arah sesaat setelah pergi. Hanya melangkah sekedar mengikuti arus dunia yang entah akan membawa ke arah mana. Hari demi hari hanya sekedar rutinitas tanpa makna.
Namun, perlahan hidup terus berjalan. Sukar rasanya jika terus terpuruk pada lewah pikir berkepanjangan yang tidak akan menemukan jawabannya. Namun pada akhirnya akan menemukan titik kerelaan. Titik dimana mungkin bahagianya justru ketika si sulung mewujudkan mimpi dan perjalanan yang didambakan.
Tidak ada pesan spesifik, mungkin tak tersampaikan. Mungkin mimpi itu akan terwujud di keabadian bersama-sama.