Permainan Semu Itu Bernama Waro

Dalam Rubrik

,

ditulis oleh

Beberapa waktu terakhir, cukup banyak isu yang berkembang di linimasa fandom JKT48 (setelahnya disebut sebagai grup idola Jakarta), terkhusus membahas mengenai waro dan segala hal yang berkaitan dengan hal tersebut. Perkembangan penggemar setelah 12 tahun berdiri tentu saja membangun dinamika baru, ditambah lagi dengan fenomena media sosial yang makin menjangkau banyak orang. Lalu, bagaimana seharusnya memahami dinamika perwaroan di fandom ini?

Sebelum membahas bagaimana waro yang ada, perlu kita pahami definisi dari waro itu sendiri. Mengutip dari Nurfikri Muharram dalam tulisannya di Mojok.co, Waro adalah respons atau feedback yang diberikan member kepada fans. Jadi, mereka yang haus akan waro selalu berharap di-notice member kesayangannya. Mereka rajin mention member di Twitter atau mengirim DM lewat Instagram.

Asal mula kata waro ini berasal dari bahasa Sunda yang berarti “diperhatikan”, yang konon katanya istilah ini dipopulerkan oleh member JKT48 yang berasal dari Bandung. Konsep serupa ini sebenarnya juga ada di konteks idola Jepang, yang sering disebut “resu” yang merupakan kependekan dari resupondo/respond.

Penggunaan kata waro sendiri hanya populer di fandom JKT48 dan dikaitkan dengan konsep fanservice pada sebuah grup idola. Bagaimana memahami konsep fanservice dan interaksi yang terjadi belakangan ini?

Konsep Fanservice

Hi-bye setelah Konser Anniversary ke-11 (Dokumentasi pribadi, diambil Desember 2022)

Sebagaimana yang telah dibahas pada artikel ini, salah satu aspek penting dari idola Jepang adalah hubungan mereka dengan penggemar. Mereka sering mengadakan acara interaksi langsung, seperti handshake event, fan meeting, dan konser skala kecil. Ini memungkinkan penggemar untuk merasa dekat dengan idola favorit mereka. Selain itu, beberapa idola aktif di media sosial, menjadikan interaksi dengan penggemar semakin mudah dan terasa personal.

Mengutip dari Miranda Ruth, fanservice merupakan interaksi inheren yang berporos para kepuasan penggemar. Fan service sering kali menciptakan interaksi dan kesenangan antara idola dan penggemar. Idola menciptakan momen istimewa yang bisa dialami dan dirasakan oleh penggemar secara langsung melalui berbagai interaksi.

Bentuk penerapan fanservice itu sendiri bisa berbeda-beda. Dalam konteks idol, bisa saja bentuk interaksi yang terjadi di antara mereka. Misalkan, di beberapa fanmeet kita bisa mendapatkan tanda tangan, berbincang kecil, hingga perhatian ketika “diingat” oleh idolanya.

Konsep “waro” dalam budaya idola Jepang sebenarnya ada, hanya beda dalam penggunaan istilah. Ada tiga pola dasar/archetypes yang umum dipahami sebagai “waro” di Indonesia. Yaitu resu-chuu, ninchi-chuu, dan sesshoku-chuu.

Resu merupakan kependekan dari kata response. Hal ini berkaitan dengan konteks apa pun yang dilakukan seorang idola untuk membuat wota merasa seolah-olah tindakan tersebut ditujukan sepenuhnya kepadanya. Contohnya adalah kedipan mata, senyuman, peace sign, atau jari telunjuk yang menunjuk.

Sedangkan ninchi adalah bentuk perhatian yang memiliki tujuan agar namanya diingat sang idola. Mungkin definisi ninchi inilah yang dipahami oleh sebagian penggemar JKT48 dalam memaknai waro dan ekspektasi bentuknya. Mereka kemudian akan mengunjungi idola yang sama di acara-acara mendatang dengan harapan sang idola akan memanggil mereka dengan nama.

Berbeda dengan kedua sebelumnya, sesshoku dapat digunakan untuk menggambarkan seseorang yang terlalu sering menghadiri handshake event, atau mencoba menyilangkan tangan atau menyentuh bahu idola saat berfoto di 2shot event. Situasi ini sudah tidak bisa ditemui saat ini dengan hilangnya handshake yang tergantikan oleh meet and greet yang mengadaptasi konsep serupa namun menghilangkan jabat tangannya, serta pembatasan jarak dan sentuhan saat foto 2-shot.

Pada konsep 48 Group, khususnya ketika membicarakan JKT48, fan service seperti menjadi kunci dalam meraih dukungan dari para penggemar. Grup ini memiliki berbagai macam bentuk fan service seperti handshake (atau sekarang berbentuk Meet and Greet/Video Call via Zoom), hi-touch (pasca-pandemi Covid-19 malah dihilangkan), pertunjukan teater rutin, dan lain-lain.

Konsep “idols you can meet” adalah inti dari budaya idola Jepang, khususnya 48Group. Berbeda dengan selebritas tradisional yang sering kali terasa jauh, idola Jepang memberikan pengalaman personal bagi penggemarnya. Mereka tidak hanya menonton, tetapi juga berpartisipasi aktif dalam perjalanan karier sang idola. Penggemar dapat melihat sisi manusiawi idola mereka, termasuk perjuangan, kegagalan, dan keberhasilan yang diraih melalui kerja keras. Dengan mengusung konsep “Idols you can meet”, tentu saja interaksi semacam ini menjadi kunci keberlangsungan bisnis mereka.

Ditambah saat ini sudah memungkinkan untuk memberikan layanan tersebut secara jauh, salah satunya adalah dengan adanya live streaming melalui beberapa platform yang makin menegaskan keberadaan jejak digital dari para member itu sendiri. Di satu sisi, ini menjadi kesempatan bagi fans jarak jauh yang sulit atau tidak dapat rutin datang ke Jakarta. Namun di sisi lain, mungkin member akan perlu beradaptasi dengan budaya dimana apa-apa yang mereka lakukan bisa menjadi jejak digital yang menjadi pisau bermata dua.

Sisi positif, bisnis hiburan ini akan banyak terangkat oleh user-generated content yang dibuat oleh para penggemar dan bisa menjadi atensi ke khalayak umum. Contoh yang terlihat adalah bagaimana naiknya beberapa lagu JKT48 karena viral di Tiktok, atau fenomena meme Freya yang diambil dari cuplikan Showroom.

Demografi Baru, Budaya Fandom Berubah?

Seiring meningkatnya popularitas grup JKT48 dan bertambahnya umur mereka, tak dapat dipungkiri akan terjadi regenerasi dan masuknya fans baru sebagaimana mereka melakukan regenerasi terhadap member yang ada. Sorotan penulis saat ini, dengan banyaknya fans baru yang masuk berarti akan masuk cara pandang dan kultur yang berbeda dengan yang sebelumnya mereka alami. Apalagi banyaknya penggemar baru dengan rentang umur yang masih di masa mencari jati diri, yang namanya mencari sosok idola dan panutan akan ditempuh dengan berbagai cara.

Perubahan demografi fans baru ini juga turut mengubah persepsi memahami waro atau notice member ditambah dengan pesatnya media sosial saat ini, terjadi perubahan orientasi dari yang berorientasi pada kesenangan pribadi menjadi sebuah alat mengais validasi dari lingkungan sekitar.

Sebenarnya, memang hakikat manusia untuk mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari orang-orang di sekitar, hal tersebut tentu tidak lepas dari eksistensi manusia sebagai makhluk sosial yang butuh pengakuan, apalagi jika dibarengi dengan rasa gengsi karena satu dan lain hal. Dalam konteks mencari perhatian member sebagai seorang idol menimbulkan perbedaan cara dan bertabrakan dengan budaya yang telah terbentuk di dalam fandom. 

Berdasarkan pengamatan penulis, bentuk waro yang diterima individual semacam ini sudah ada sejak lama. Menertawakan interaksi yang sudah terjadi antara fans dan idola setelah berjumpa di bilik handshake bersama teman, percaya diri menceritakan bagaimana oshi yang tiba-tiba memberi eyelock saat pertunjukan teater, dan diberi senyuman saat ikut sebuah event. 

Mungkin tidak bisa menjadi sebuah perbandingan jika melihat waro-waro yang didapatkan penulis. Tentang bagaimana merasakan waro-waro unexpected di row depan teater, sampai apresiasi dari oshi sampai hampir semua member hanya karena sebuah gift yang hampir terlupakan karena 2 bulan tak ada kabar.

Waro member seperti menjadi sebuah permainan, perlu mencapai titik-titik pengalaman tertentu untuk menggapai sebuah level. Namun, level yang ingin dikejar ini masih terlalu subjektif. Tidak ada patokan milestone yang jelas sehingga orang-orang mengejar levelnya sesuai pemahaman dan definisi mereka sendiri.

Sayangnya, hal tersebut menjadi tidak normal ketika pertemuan tersebut dilakukan hingga mengganggu kenyamanan orang lain. Para fans mulai melakukan berbagai cara untuk mendapatkan atensi yang diinginkan. Mungkin terlihat sederhana, sekedar mendapatkan lambaian tangan atau senyuman kecil. Tapi bagaimana untuk mendapatkan hal itu, sering terlupakan apakah hal tersebut membuat orang lain, baik dari member yang bersangkutan maupun orang lain, merasa nyaman atau malah terganggu.

Stereotipe “Wota Tiktok” adalah salah satu bentuk bagaimana sebuah komunitas fandom menilai sikap dari sekelompok lain. Apalagi algoritma yang menjadi ruang gaung konten-konten serupa semakin menguatkan stereotip ini. Tentu kita percaya bahwa hal tersebut adalah kelakuan oknum, namun jika terus dibiarkan tentu akan menjadi pembenaran dan akhirnya dianggap normal.

Seperti sangat mudah tangan orang saat ini untuk mengangkat telepon genggamnya dan mengaktifkan kamera. Segala yang telah didapatkan kemudian diunggah ke media sosial demi mendapatkan atensi tinggi dan trending yang disebut sebagai “For you page”. Atau membuat konten tidak masuk akal sebagaimana yang pernah penulis bahas mengenai konten grad member sebelumnya.

Sepertinya fans baru sendiri ini belum bisa memahami bagaimana waro yang seru dan mana waro yang berbahaya. Semua notice yang diberikan seolah diterjemahkan sebagai sesuatu yang positif dan menyenangkan buatnya, padahal belum tentu hal tersebut sesuai dengan apa yang dibayangkan. Misalkan bagaimana ada gestur tidak nyaman dari member, namun malah dianggap sebagai bentuk notice yang layak dipamerkan alih-alih “tersindir” dan segera meninggalkan tempat.

Bagaimana memandang masalah ini? Mayoritas mereka yang baru ini juga berada di fase remaja yang sedang menemukan jati dirinya. Sebagai orang yang lebih dewasa dan lebih paham situasi, mungkin memang perlu ada bimbingan. Namun, tadi kita membahas kondisi ideal. Dalam realitasnya, orang dewasa yang seharusnya memberikan contoh baik kepada adik-adik ini malah ikut-ikutan dengan cara yang tidak masuk akal.

Soal bebal, ini memang menjadi masalah dan tantangan tersendiri. Sudah banyak terjadi fenomena ketika diingatkan malah merespons dengan ledekan-ledekan. Namun, kita juga perlu mengapresiasi mereka yang mau mendengarkan dan belajar dari yang jauh lebih paham.

Budaya Demachi

Dalam konteks fanbase di Jepang, khususnya yang terkait dengan grup idol, “demachi” (出待ち) dapat merujuk pada penggemar yang memiliki kebiasaan menunggu member keluar dari teater setelah pertunjukan atau kegiatan.

Pada dasarnya, Demachi merupakan hal yang lumrah di Jepang. Bahkan dari contoh grup idola Takarazuka School, kegiatan ini seolah menjadi ritual kehormatan antara fans club dengan sang idola.

Meskipun begitu, penerapannya di 48Group baik AKB48 maupun JKT48 sangat berbeda bahkan condong seperti hal yang ilegal. Teater AKB48 dan JKT48 memiliki kesamaan yaitu letaknya yang berada di dalam mal. Sehingga kegiatan demachi ini dianggap mengganggu bagi pihak mal sendiri.

Situasi lobi fX Sudirman setelah pertunjukan teater (Dokumentasi Pribadi, diambil Juli 2025)

Alasan mengapa demachi dilarang adalah terkait dengan kebiasaan fans. Setiap hari para member dituntut untuk memberikan penampilan terbaiknya di teater dan interaksi dengan penggemar juga dilakukan di sana. Sebagai balasannya, terkadang para penggemar menunggu member pulang di pintu masuk atau akses parkir mal hanya untuk sekedar say thanks. Seiring berjalannya waktu, hal tersebut malah bergeser seperti memberikan gift atau mengajak untuk mengobrol yang jelas mengganggu member.

Jika dilakukan semestinya, demachi bukanlah sesuatu yang wajar. Dimana penggemar memahami ranah privasi dari member dan tidak akan melakukan hal berlebihan kepada mereka. Bahkan ada sebuah kisah (yang penulis belum verifikasi), dimana dulu jika ada penggemar yang melakukan demachi di lobi mal fX Sudirman dan Shani Indira (ex-member, aktif di tahun 2014-2025) yang meminta untuk bubar maka semua orang di sana akan bubar dan pulang.

Pada tahun 2013, akun resmi JKT48 pernah memberikan peringatan terkait dengan demachi. Jadi apakah demachi ini legal? Bisa dibilang tidak, namun kadang masih ada.

“Aura Idol” yang Ambigu

Dalam ekosistem grup idola Jakarta, “Aura Idol” sering kali menjadi istilah abstrak yang melampaui sekadar bakat teknis di atas panggung. Definisi idola yang ideal dalam konteks ini tidak hanya bertumpu pada presisi vokal atau tarian, melainkan pada kemampuan member untuk memancarkan energi yang menular. Idola yang memiliki aura kuat adalah mereka yang mampu mengomunikasikan narasi growth secara visual; di mana setiap usaha latihan dan peningkatan kualitas performa dianggap sebagai bentuk kejujuran dalam berproses. Hal ini menciptakan standar bahwa idola ideal adalah seorang petarung yang membiarkan penggemarnya menyaksikan setiap tahap transformasinya.

Selain aspek performa, kepatuhan terhadap golden rules menjadi fondasi krusial yang menjaga eksklusivitas “aura idola” tersebut. Disiplin terhadap aturan bukan sekadar masalah kepatuhan administratif, melainkan bentuk pengabdian dan penghormatan terhadap kepercayaan penggemar. Idola yang mampu menjaga integritas diri di tengah sorotan publik dianggap memiliki nilai moralitas yang tinggi, yang pada gilirannya memperkuat karisma mereka. Aura ini meredup ketika batas-batas profesionalisme dilanggar, karena bagi penggemar, idola yang ideal adalah sosok yang mampu menjaga kesucian narasi pengabdiannya terhadap grup.

Elemen terakhir yang menyempurnakan definisi idola ideal adalah penguasaan fanservice yang otentik. Di JKT48, interaksi melalui meet and greet, video call, atau sesi teater bukan sekadar keramahan transaksional, melainkan ruang pembangunan ikatan emosional. Idola dengan aura yang kuat memiliki kemampuan untuk membuat penggemar merasa “dikenali” dan dihargai sebagai bagian dari perjalanan kariernya. Kemampuan komunikasi dua arah ini menciptakan rasa memiliki (sense of belonging) yang kuat di sisi penggemar. Dengan demikian, idola yang ideal dapat didefinisikan sebagai harmoni antara kualitas panggung yang memukau, disiplin perilaku yang konsisten, dan ketulusan dalam menjalin hubungan personal dengan basis massanya.

Meskipun begitu, sebagai manusia tentu memiliki kekurangannya. Namun, cara pandang kita dalam melihat idola seringkali melupakan aspek tersebut, berbarengan dengan bagaimana mediayang kita konsumsi saat ini sangat menonjolkan kesempurnaan persona. Filosofi “tumbuh dan berkembang bersama” yang dijual oleh grup idola ini menekankan bahwa proses yang dijalani dengan tulus dan ketangguhan akan menampilkan keindahan tanpa perlu kesempurnaan.

Inilah yang membuat banyak orang lupa bahwa member memiliki keterbatasan dan limitasi energi. Ketika penggemar merasa dunia mereka sepenuhnya ada mengelilinginya, dia akan melakukan apapun demi pernyataan dan validasi bahwa dia adalah penggemar sejati. Termasuk bagaimana pola beberapa orang yang terobsesi dengan idola hingga melakukan hal-hal tidak masuk akal. Dari seremeh “menyerang balik” orang yang mengritik performa idolanya di panggung dengan niat membela hingga gatekeeping idolanya agar perhatian kepadanya tidak hilang.

Politik Monopoli Waro: Sikap Mendukung atau Obsesi ke Idola?

Jika pembaca tidak asing dengan konsep “sasaeng” di dunia idola Korea Selatan, pembahasan politik monopoli waro adalah bentuk lain obsesi penggemar kepada idolanya tersebut. Hanya beda bentuk dan lokasi kejadian.

Sasaeng adalah penggemar yang sangat obsesif dari idola pop Korea, atau tokoh masyarakat lainnya, yang terlibat dalam penguntilan atau perilaku lain yang merupakan pelanggaran privasi. Istilah sasaeng mengacu pada intrusi para penggemar ke kehidupan pribadi selebriti.

Sebuah kejadian menggemparkan di bulan Maret 2025 menjadi alasan mengapa penulis menambahkan pembahasan topik ini. Ada salah satu akun anonim yang membongkar kelakuan salah satu fans JKT48 yang terobsesi berlebihan kepada member yang dia dukung. Awalnya, kasus ini terbongkar dari kecurangan yang dia lakukan untuk mendapatkan seating baris depan, dimana selama beberapa waktu terakhir teater JKT48 menerapkan undian untuk menentukan posisi duduk penonton.

Bentuk protes bermunculan karena selama ini ternyata sistem undian pada kursi duduk teater maupun pembelian roulette 2-shot (tiket foto bersama member secara acak setelah show yang dijual terbatas) bisa diatur sedemikian rupa. Isu bahwa petugas keamanan yang terlibat telah dibebastugaskan dan tidak pernah terlihat lagi sejak awal tahun.

Kejadian ini merembet ke kebobrokan lain, semisal blacklist yang dilakukan pihak manajemen terhadap pelaku karena memberikan gift di luar ketentuan, postingan validasi bahwa dia datang ke event padahal dia tidak dapat membeli tiket karena masuk blacklist, hingga ajakan merayakan ulang tahun di kamar hotel. 

Saat apa yang diharapkan tidak dituruti oleh sang idola, penggemar bermain seolah dia merasa diabaikan dan perjuangannya tidak dihargai. Istilah sekarang, playing victim. Orang yang bermain korban seringkali menghindari tanggung jawab dan mencari simpati atau perhatian dari orang lain dengan memaparkan kisah-kisah kesulitan yang mereka hadapi. Dia berharap agar sang idola yang seharusnya sebagai korban merasa iba dan menuruti segala keinginan penggemar “pelaku” ini.

Kejadian ini bukan pertama kali terjadi. Sebuah cerita muncul dari dua ex-member yang menjadi korban obsesi dan bahkan sampai mengganggu hidupnya. Mulai dari retaknya hubungan persahabatan di antara mereka, gagalnya korban untuk mencari pekerjaan/peluang baru, dan lain sebagainya. Kisah ini terlalu kompleks, namun hakikatnya ini adalah tentang obsesi penggemar yang “disambut hangat” oleh sang idola yang saat itu merasa kesepian di tengah kompetisi dalam grup idola.

Di sisi lain, dia menebar jaring bersama “sirkel”-nya untuk mengambil kendali beberapa fanbase member. Posisi ini tentu sangat penting karena bisa dibilang fanbase member ini mempengaruhi sisi emosional dan dukungan untuk sang member meskipun tidak secara resmi diakui oleh manajemen.

Lantas, mengapa obsesi berlebihan ini bisa terjadi? Beberapa faktor psikologis dapat berperan, seperti perasaan kesepian, rendah diri, atau kebutuhan untuk mencari identitas dan rasa memiliki. Idola seringkali dipandang sebagai sosok yang sempurna dan ideal, sehingga penggemar yang merasa tidak puas dengan diri sendiri dapat mencari pelarian dan pemenuhan emosional melalui mereka. Selain itu, budaya fandom yang kompetitif dan tekanan untuk menunjukkan loyalitas yang ekstrem juga dapat memperburuk situasi.

Penting untuk ditekankan bahwa mengagumi dan mendukung idola adalah hal yang wajar dan positif. Namun, batasan yang sehat perlu dijaga. Penggemar perlu menyadari bahwa idola mereka adalah manusia biasa dengan kehidupan pribadi yang harus dihormati. Fokus pada pengembangan diri sendiri, menjaga hubungan sosial yang sehat, dan memiliki minat lain di luar dunia idola adalah kunci untuk mencegah terjerumus dalam obsesi yang merugikan.

Menggantungkan Kebahagiaan pada Hubungan Parasosial

Penulis sangat teringat dengan pernyataan Jessica Veranda, ex-member JKT48 Generasi 1, pada sebuah podcast USS Feed, dia menyebut bahwa grup JKT48 ini membantu banyak orang menjalani hidup dan menemukan tempat baru saat lingkungannya tidak berpihak.

Mengagumi seseorang hingga menjadikan mereka panutan adalah hal yang wajar, bahkan bisa memotivasi untuk menjadi versi diri yang lebih baik. Namun, garis tipis memisahkan kekaguman yang sehat dengan ketergantungan emosional yang berpotensi merugikan. Ketika kebahagiaan sepenuhnya digantungkan pada sang idola, kita memasuki wilayah yang penuh dengan sisi negatif.

Salah satu bahaya utama dari ketergantungan tersebut adalah kehilangan identitas diri. Penggemar yang terobsesi seringkali meniru gaya hidup, preferensi, hingga pandangan dunia idolanya secara berlebihan. Kebahagiaan yang mereka rasakan menjadi semu, karena bersumber dari validasi eksternal, bukan dari pemahaman dan penerimaan diri yang utuh.

Lebih jauh, ketergantungan emosional menciptakan pondasi kebahagiaan yang rapuh. Ketika seluruh emosi dan suasana hati dipengaruhi oleh aktivitas atau citra publik idola, individu menjadi rentan terhadap kekecewaan yang mendalam. Skandal, kritik, atau bahkan perubahan citra sang idola dapat menghancurkan ilusi kebahagiaan yang selama ini mereka bangun. Mereka mungkin merasa dikhianati, kehilangan arah, dan mengalami gejolak emosi yang signifikan. Padahal, kebahagiaan sejati seharusnya bersumber dari dalam diri, stabil dan tidak bergantung pada fluktuasi eksternal.

Selain itu, waktu dan energi yang terbuang sia-sia juga menjadi konsekuensi buruk. Obsesi yang berlebihan dapat menyita waktu dan perhatian yang seharusnya bisa dialokasikan untuk pengembangan diri, hubungan sosial yang nyata, atau meraih tujuan pribadi. Energi mental dan finansial pun terkuras demi mengikuti setiap perkembangan idola atau bahkan memikirkan hal yang tidak seharusnya dipikirkan.

Terakhir, pengkulturan idola secara berlebihan dapat menghambat kemampuan berpikir kritis. Ketika seseorang terlalu mengagumi, mereka cenderung mengabaikan kekurangan atau kontroversi yang mungkin melekat pada sang idola. Mereka menjadi resisten terhadap kritik dan bahkan membela idola secara membabi buta. Hal ini menghalangi perkembangan kemampuan untuk mengevaluasi informasi secara objektif dan membentuk pandangan yang seimbang.

Rasanya kita juga perlu mengubah cara pandang kita terhadap idola. Sang idola tetaplah manusia biasa yang memiliki banyak kepentingan dan peran lain sebagai manusia. Dia punya titik lelah dan jenuh yang mungkin membuat orang lain tidak nyaman.

Kita perlu menjernihkan cara pandang bahwa hubungan penggemar dan idola adalah hubungan sebagai subyek, bukan sebagai obyek pemuas ego berdalih “saya sudah membayar/berusaha”. Ada sebuah istilah yang disebut sebagai sense of entitlement, yaitu sikap mental di mana seseorang merasa pantas mendapatkan perlakuan istimewa, hak istimewa, atau imbalan tinggi tanpa usaha atau kontribusi yang sepadan. Mereka sering merasa dunia berhutang budi pada mereka, mengabaikan aturan, dan menuntut prioritas.

Kalaupun dirasa tidak mendapatkan apa yang diharapkan dari satu orang idola, bisa saja kita punya pilihan untuk berhenti membeli produk tersebut dan meninggalkannya. Mengingat kebutuhan hiburan dalam peridolaan ini hanyalah kebutuhan tersier. Ataupun jika ingin tetap bertahan, grup ini punya banyak member yang bisa menjadi alternatif lain. Pertanyaannya, apakah kita melihat sikap idola yang berubah dan bebal dengan saran kita atau kita yang menyalahkan mereka atas ekspektasi kita yang jatuh dan kepalang malu dengannya?

Penting untuk ditekankan bahwa mengagumi dan mendukung idola adalah hal yang wajar dan positif. Namun, batasan yang sehat perlu dijaga. Penggemar perlu menyadari bahwa idola mereka adalah manusia biasa dengan kehidupan pribadi yang harus dihormati. Fokus pada pengembangan diri sendiri, menjaga hubungan sosial yang sehat, dan memiliki minat lain di luar dunia idola adalah kunci untuk mencegah terjerumus dalam permainan obsesi yang semu dan merugikan.